
“Wahai Rasulullah, kami mempunyai seorang gadis yatim yang dilamar dua orang, yang satu kaya raya dan satunya lagi miskin. Ternyata dia justru menyintai laki-laki yang miskin, sedangkan kami menginginkan agar dia kawin dengan yang kaya.” Beliau bersabda, “Apakah tidak terlihat oleh kalian bahwa orang yang saling menyintai itu seperti pasangan?”
(Dalam riwayat Thabrany, dengan catatan “periwayatan hadits ini menyendiri”)
Entah sudah berapa ratus tahun cerita-cerita semisal ini pernah terjadi. Seorang anak menginginkan sesuatu, tetapi orangtuanya menginginkan sesuatu yang berbeda.
Seorang Dekan Fakultas Teknik, yang terkenal sebagai orang yang sangat cerdas, ketika anak pertamanya lahir dan dia adalah laki-laki, maka Dekan itu langsung “mengharuskan” bahwa kelak anaknya itu harus juga sejenius dirinya, dan menjadi pakar Teknik yang besar.
Dia terus mengarahkan anaknya menuju ke tempat itu. Dia tidak peduli anaknya itu suka atau tidak. Karena tujuannya hanya satu, obsesi itu harus terwujud, karena itu akan membanggakan dirinya di hadapan kolega-koleganya. Mungkin beliau lupa, bahwa Allah-lah yang telah menggariskan setiap anak itu memiliki bakat-bakat tertentu.
Dan rupanya bakat anak lelakinya itu adalah sastra. Maka selama 3 kali anak lelakinya itu mengikuti ujian masuk ke Teknik, tidak sekalipun anaknya itu lulus. Dan karena tertekan, anak lelakinya itu meninggal dunia. Tahun '90-an, seorang anak Madrasah Tsanawiyah menjelang kelulusannya berkata kepada ibunya, bahwa setelah ia lulus, ia akan melanjutkan ke MAKN/ MANPK (Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus) di Solo. Anak itu bilang, bahwa tujuannya melanjutkan kesana adalah agar dia setelah lulus Aliyah, bisa mendapatkan beasiswa ke Mesir, menuju Universitas Al Azhar. Oleh karena itu ketika duduk di Tsanawiyah, ia perdalami Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Saat ada guru yang penghafal Al Quran, anak itu sering duduk melingkar di hadapan beliau, dan menyerahkan hafalannya satu demi satu. Itu adalah inisiatifnya sendiri, bukan kewajiban dari sekolah. Rupanya ibunya dan kakaknya tidak setuju. Mereka menginginkan agar anak itu pulang ke kampungnya. Dan melanjutkan ke SMA Negeri favorit. Anak itu lulus dengan nilai tertinggi. Akhirnya dia duduk di bangku SMA. Dari kelas 1 sampai kelas 3 cawu 2, tidak ada masalah apa-apa, nilai-nilainya tetap menjadi siswa dengan nilai tertinggi. Namun di kelas 3 cawu 3, nilainya sangat buruk. Dan anak itu lulus dengan nilai terburuk satu sekolahan. Belum berakhir disitu. Anak itu harus mengikuti 3 kali UMPTN selama 3 tahun, karena dia terus gagal dan gagal lagi.
Di kali ke-3, dia lulus. Tapi di bangku kuliah lagi-lagi dia gagal. Dia tidak bisa menjadi sarjana, kampus meminta dia untuk mundur. Dia gagal, dia jatuh sakit, psikologisnya terguncang. Saat ibunya tahu teman-temannya sudah ada yang S2 dan S3 dan anaknya itu tidak menjadi apa-apa, ibu itu baru tersadar. Beliau menangis. Beliau meminta maaf. Dan anak laki-lakinya itu hanya bilang, “Ibu, semuanya sudah berlalu. Kita tidak boleh kembali ke masa lalu untuk merasakan sakit-sakitnya lagi. Dan Ibu sudah saya maafkan....” Seorang Pakar yang sangat cerdas, memiliki obsesi yang sangat besar. Anaknya dipaksa kuliah di jurusan-jurusan yang susah-susah bagi orang awam. Dan beliau pun mematok target, agar kelak yang harus menjadi suaminya adalah anak lulusan S2. Mengapa tidak sedikit orangtua harus melakukan sesuatu yang agak menyakitkan bagi anak seperti ini? Mengapa mereka harus memaksa anak? Mengapa demi obsesi-obsesi mereka, anak harus menjadi korban? Mengapa mereka tidak mengizinkan anak itu tumbuh apa adanya, sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah? Mungkin memang benar, dari rahim seorang Doktor, Allah menurunkan anak yang kecerdasannya sama atau melebihi orangtuanya. Tapi juga tidak sedikit, dimana anak-anak mereka memiliki bakat karunia Allah, yang berbeda-beda. Mungkin ada yang berbakat di bidang matematika, sastra, grafis, kuliner, motivator, seni, menulis, agama. Apakah semua bakat-bakat itu rendah?
Ketika ada seorang anak perempuan yang sudah melewati umur dan dia belum menemukan pasangan hidupnya, kadang kami curiga, jangan-jangan orangtuanyalah yang mematok targetan-targetan. Jika memang benar, maka yang harus diadukan kepada Hakim adalah orangtuanya. Bagaimana mungkin kita boleh memaksa, padahal hati kita beda, cara kita melihat berbeda, cara kita merasakan berbeda, cara kita memahami berbeda. Jika anda tidak percaya, cobalah suatu hari anda bawa anak anda ke toko sepatu, pakaian atau laptop. Anda sebagai orangtua silahkan memilihkan untuk anak, dan anak juga dipersilahkan untuk memilih sesuai dengan kecocokan hatinya. Mungkin sepatu yang anda pilih tidak sama dengan sepatu yang dipilih anak anda. Bisa jadi warnanya berbeda, stylenya berbeda, merk-nya berbeda. Pakaian yang anda pilihkan pun tidak sama dengan yang dipilih oleh anak.
Dan laptop pun mungkin juga tidak sama dengan pilihan anda. Kenapa itu bisa terjadi? Karena kita bisa memaksa buah mangga untuk cepat masak. Kita petik dengan paksa ketika masih muda, kita bungkus dengan daun-daunan, lalu kita timbun di dalam tanah bersama karbit. Kita bisa memaksa mangga itu untuk cepat masak, tapi kita tidak bisa memaksa mangga itu untuk berubah menjadi buah apel. Jika biji mangga itu kita tanam, yang akan tumbuh adalah pohon mangga, dan selamanya ia tidak bisa tumbuh menjadi pohon apel, meskipun kita paksa sedemikian rupa.
Anak-anak anda mungkin adalah buah mangga. Maka akan sampai kapanpun anda memaksanya untuk tumbuh menjadi pakar seperti anda, mungkin dia tidak bisa. Izinkan dia tumbuh untuk menjadi sesuatu yang sudah dikehendaki oleh Allah. Kita hanya menanam, yang menumbuhkannya adalah Allah. Izinkan dia memilih seseorang yang dia condong kepadanya. Karena cara dia melihat berbeda dengan cara kita melihat.
“Ruh itu laksana pasukan-pasukan yang dikerahkan. Seberapa jauh pasukan itu saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan bersatu. Dan seberapa jauh mereka tidak saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan berselisih.” (dalam riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan lain-lainnya) Mungkin jiwa anda tidak mengenal dengan jiwa orang yang disukai anak anda, karena itulah anda tidak menyukai orang itu.
Sedangkan jiwa anak anda mengenal persis jiwa orang yang disukainya, karena itulah mereka ingin bersatu. Kita tidak bisa memaksa anak untuk bersatu dengan orang yang dia tidak menyukai wataknya. Jadi izinkan saja dia bertemu dengan seseorang yang watak dan kepribadiannya dia sukai, meskipun anak itu bukan S2.
Dari perjalanan ratusan tahun, atau mungkin ribuan tahun, kita sampai di titik ini. Mungkin ini adalah masa terindah dalam sejarah. Masa dimana kita bisa memahami, atau juga bisa memberi arti bagi kehidupan yang lain. Bencana-bencana mudah-mudahan tidak terjadi lagi. Kinilah saatnya bagi anak dan orangtua mulai membuat ikatan hubungan yang sangat indah di alam semesta.
Kinilah saatnya kita memahami bahwa tujuan kita adalah “Bahagia di dunia, bahagia di akhirat, dan dijauhkan oleh Allah dari Neraka (fiddunya khasanah, wafil akhirati khasanah, waqinaa 'adzaabannaar). Jika obsesi-obsesi itu hanya membuat anda bahagia sedang anak anda tidak, apakah kebahagiaan dalam jiwa anda itu sempurna? Begitupun sebaliknya, jika anak anda bahagia, tapi dia menempuh cara yang membahayakan akhiratnya, itupun bukan sebuah kebahagiaan yang sempurna.
Pertemukanlah anak-anak anda dengan orang-orang yang membawa kebaikan agama dan membawa kebahagiaan bagi anak anda. Izinkan mereka bersatu. Izinkan mereka bahagia. Karena kebahagiaan tidak semuanya dari kemapanan materi. Kebahagiaan itu berasal dari jiwa anak anda yang bahagia, dan jiwa pasangan anak anda yang bahagia, yang mereka bersatu, saling menguatkan, saling bahu membahu, dan saling setia. Doakan mereka terus menerus, siang dan malam.
Doakan agar sepanjang hayat mereka dilimpahi kebahagiaan, setia sampai kakek-nenek, dilimpahi kelimpahan-kelimpahan dan kekayaan, diberi keturunan yang membahagiakan pandangan mata, diberi kesehatan, diberi sahabat-sahabat yang hebat-hebat, dikelilingi oleh tetangga-tetangga yang baik, memiliki kendaraan yang bagus, memiliki rumah yang indah, memiliki banyak sekali perusahaan, bersedekah dengan hartanya siang dan malam, sembunyi maupun terang-terangan, saling membantu untuk bangun shalat malam...what next? Percayalah, kebahagiaan itu ada di dalam jiwa....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar